1. Bahan Kimia Yang
Digunakan Sebagai Senjata Kimia.
Senjata
kimia adalah senjata yang memanfaatkan sifat racun dari senyawa kimia untuk
merugikan orang lain. Misalnya saja penggunaan gas air mata pada saat terjadi
kerusuhan. Bahan kimia yang sering dipakai pada gas air mata antara lain gas
CN,Phosgene, Chlorine Gas, Agent Orange dan Nerve Gas.
Bahan dan Dampak Senjata Kimia Pada Lingkungan.
Ø Sianida (CN),
Kelompok CN dapat ditemukan dalam banyak senyawa. Beberapa adalah gas, dan
lainnya adalah padat atau cair.
Ø Phosgene ,
Senyawa ini tidak berwarna dan sangat beracun, berbau sangat menyengat pada
konsentrasi tinggi. Sekarang senyawa ini digunakan sebagai senyawa pertengahan
pada sintesa senyawa organik seperti carbonic esters, isocyanates, polyurethanes,
dan digunakan dalam pembuatan pewarna.
Ø Chlorine
Gas, Pada temperatur ruangan, senyawa murni Cl ini berbentuk gas berwarna
kuning kehijauan dan berbau menyengat pada konsentrasi tinggi. Kini senyawanya
digunakan sebagai bahan pemutih pada kertas, membunuh bakteri, pembuatan
bromine, tetraethyl dan berbagai produk lainnya.
Ø Agent
Orange, Senyawa yang digunakan untuk membunuh tanaman semasa Perang Vietnam
ini disebut Orange karena kontainer pembawa senyawa ini berwarna oranye.
Beberapa senyawa herbisida lain yang terkenal pada selama perang tersebut
antara lain Agent Blue dan Agent White. Agent Orange ini mengandung senyawa
samping dioxins yang sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. Dioxins dapat
menyebabkan cacat lahir dan kangker langka dan memiliki efek yang
berkepanjangan.
Ø Nerve
Gas, Sebagian besar gas syaraf termasuk jenis organophosphates, sebuah tipe
yang awalnya dikembangkan untuk digunakan sebagai pestisida.
Bahaya dari
penggunaan senjata kimia ini terhadap lingkungan berasal dari bahan-bahan yang
digunakan untuk membuat senjata tersebut. Seperti kita ketahui bahwa bahan
kimia pasti memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia. Bahan kimia ini akan
merusak jaringan kulit, merusak paru-paru dan menimbulkan penyakit pneumonia
(gangguan saluran pernafasan).
Menurut
saya bahan kimia ini tidak seharusnya digunakan untuk pembuatan senjata,
apalagi senjata tersebut di gunakan untuk berperang. Karena dampak dari senjata
kimia bagi lingkungan ataupun manusia itu sendiri dapat merugikan banyak hal.
2.
Teknologi terbaru akhir-akhir ini dan manfaatnya untuk lingkungan.
Solar
Roads: Konsep Solar Roadways, akan membuat jalan menggunakan
panel kaca untuk mengumpulkan dan mendistribusikan tenaga surya untuk menerangi
cahaya di malam hari dan panas di musim dingin, dengan cukup energi tersisa
untuk menyalakan rumah-rumah dan bisnis-bisnis. Penemunya, Scott Brusaw,
memperkirakan setiap mil panel tenaga surya dapat menerangi 500 rumah, dan
diperkirakan untuk membuat panel sebesar 12x12 memerlukan biaya $5,000.
3. Energi Alternatif dari kulit pisang.
Siapa yang menyangka buah manis seperti pisang yang biasa kita temui dan konsumsi sehari-hari dapat di gunakan sebagai energi alternatif, baru-baru ini sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungannya.
Siapa yang menyangka buah manis seperti pisang yang biasa kita temui dan konsumsi sehari-hari dapat di gunakan sebagai energi alternatif, baru-baru ini sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungannya.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa rata-rata tegangan yang dihasilkan oleh baterai kering dengan elektrolit
kulit pisang adalah 1,24 volt. Dan ketahanan dalam jam dinding rata-rata selama
5 hari 6 jam (135 jam). Kontruksi baterai kering kulit pisang sama dengan
baterai biasa. Perbedaannya adalah pada elektrolitnya. Kulit pisang mengandung
beberapa mineral yang dapat berfungsi sebagai elektrolit. Mineral dalam jumlah
terbanyak adalah potassium atau kalium (K+). Kulit pisang juga mengandung garam
sodium yang mengandung klorida (Cl-) dalam jumlah sedikit. Reaksi antara
potassium atau kalium dan garam sodium dapat membentuk kalium klorida atau KCl.
Menurut Drs. Asep Jamal (2008) KCl merupakan elektrolit kuat yang mampu
terionisasi dan menghantarkan arus listrik.
Pisang juga mengandung
Magnesium dan Seng. Magnesium (Mg) dapat bereaksi dengan diklorida dan menjadi
elektrolit kuat. Jumlah Magnesium hanyalah 15 % dari jumlah pisang keseluruhan.
Pisang juga mengandung Seng (Zn) yang merupakan elektroda positif. jumlah
kandungan Seng dalam pisang hanya mencapai 2 %. Sehingga mineral yang paling
berperan dalam menghantarkan listrik adalah potassium atau kalium, yang
bereaksi dengan garam sodium. Dimungkinkan garam magnesium dan seng juga turut
berperan dalam menghantarkan dan menyimpan arus listrik searah.
Hasil penelitian juga
menunjukkan, baterai kontrol mampu bertahan lebih dari 7 hari sedangkan baterai
kulit pisang hanya kurang dari 6 hari. Hal ini disebabkan baterai kontrol
memiliki senyawa yang berfungsi sebagai depolarisasi. Senyawa yang digunakan
adalah mangandioksida. Walaupun pisang juga mengandung mangan, namun jumlahnya
hanya 0,6 mg per 100 g. Disamping itu setiap reaksi dalam baterai mengalami
suatu proses polarisasi akibat adanya gas hidrogen yang terlepas. Pisang dan
terutama kulit pisang mengandung lebih dari 60 % kadar air (H20), yang dapat
terlepas apabila terjadi suatu reaksi kimia. Sehingga kemungkinan terjadinya
polarisasi sangat besar. Hal tersebut yang mengakibatkan perbedaan ketahanan antar
baterai kulit pisang dan baterai kontrol cukup besar. Sedangkan diantara ketiga
jenis pisang, maka pisang susu yang memiliki ketahanan tertinggi. Namun karena
selisih ketahanan diantara pisang susu dan jenis pisang lain kurang dari 24
jam, maka bisa dikatakan bahwa ketahanan di antara ketiga jenis pisang tidak
memberikan perbedaan yang signifikan.
Data pelengkap lain,
berupa data berat bersih baterai menunjukkan bahwa rata-rata kulit pisang yang
digunakan sebesar 3,3 gram per baterai. Sementara kulit pisang utuh rata-rata
27 gram per satu buah. Sehingga satu buah kulit pisang mampu dijadikan kurang
lebih 8 baterai. Hal ini merupakan keunggulan lain dari baterai kering dari
kulit pisang.
Kesimpulan dari penelitian
diatas adalah Baterai kering yang menggunakan bahan baku kulit pisang memiliki
rata-rata voltase 1,2 V dan ketahanan rata-rata 5 hari 7 jam dan Diantara
ketiga jenis pisang tidak memberikan perbedaan performa (voltase dan ketahanan)
yang signifikan.
Nama : Andhika Mardani Putra
Npm : 10512746
Kelas : 1PA05