Sejarah Kecerdasan
Buatan (AI), tahun 1950-an Alan Turing, seorang pionir AI dan ahli matematika
inggris melakukan percobaan yang dinamakan Turing
Test yaitu sebuah komputer melalui terminalnya ditempatkan pada jarak jauh.
Di ujung yang satu ada terminal dengan software
AI dan di ujung lain ada sebuah terminal dengan seorang operator. Operator itu
tidak mengetahui kalau di ujung terminal lain dipasang software AI. Mereka berkomunikasi dimana terminal di ujung
memberikan respon terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan operator. Dan sang
operator itu mengira bahwa ia sedang berkomunikasi dengan operator lainnya yang
berada pada terminal lain. Turing beranggapan bahwa jika mesin dapat membuat
seseorang percaya bahwa dirinya mampu berkomunikai dengan orang lain, maka
dapat dikatakan bahwa mesin tersebut cerdas (seperti layaknya manusia).
Kecerdasan buatan
adalah salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin/ komputer dapat
melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia (Kusumadewi,
2003).
Sedangkan Kristanto
menyatakan bahwa kecerdasan buatan adalah bagian dari ilmu pengetahuan komputer
yang khusus ditujukan dalam perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam
sistem kecerdasan komputer. Sistem memperlihatkan sifatsifat khas yang dihubungkan
dengan kecerdasan dalam kelakuan yang sepenuhnya bisa menirukan beberapa fungsi
otak manusia, seperti pengertian bahasa, pengetahuan, pemikiran, pemecahan
masalah dan sebagainya (Kristanto, 2004).
Hal senada
juga dijelaskan oleh Rich dan Knight (dalam Kusrini, 2006) yang mendefinisikan
kecerdasan buatan (AI) sebagai sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer
melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia.
Menurut Winston dan Prendergast (1984), tujuan dari
Kecerdasan Buatan adalah:
a. Membuat mesin
menjadi lebih pintar.
b. Memahami apakah
kecerdasan (intelligence) itu.
c. Membuat mesin
menjadi lebih berguna.
Dalam hal ini kaitan kecerdasan buatan dengan kognisi manusia yaitu, kecerdasan
buatan diciptakan oleh manusia, dioperasikan juga oleh manusia. Jadi, erat sekali
hubungan kecerdasan buatan (AI) dengan kognisi manusia. Manusia menciptakan
kecerdasan buatan (AI) disesuaikan dengan cara kerja otak manusia, namun AI
membutuhkan perintah dari manusia terlebih dahulu untuk melaksanakan tugasnya,
berbeda dengan kerja otak manusia yang sudah disebutkan dalam perbandingan AI
dengan kognisi manusia di atas.
Daftar Pustaka
Kusumadewi,
S. 2003. Artificial Intelligence (Teknik
dan Aplikasinya). Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kusrini. 2006. Sistem Pakar, Teori dan Aplikasi.Yogyakarta: C.V
ANDI OFFSET.
Kristanto,
Andri. 2004. Kecerdasan Buatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar